Tampilkan postingan dengan label kisah rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah rindu. Tampilkan semua postingan
Rabu, 23 Juli 2014
SAAT CINTA MENGUKIR KISAH
sepuluh perjalanan waktu mengkisahkan
tautan rasa dari separuh catatan Yang Kuasa
antara gelak yang cipta, juga derai yang pernah
lerai
mengisi lembaran-lembaran kita
senja masih di hujung sana
tak biar cinta berai sebelum sampai
peluk eratlah jiwa, kalungkan aku asa
kita tenun bersama
lembayung di kaki cakrawala
saat senja menyapa, berbagi rona
masih ingatkah?
dua mata senja menyemai renjana
pada sembilan butir mutiara
di tahun yang sama
dua ribu empat tetesan bahagia
di altarnya janji itu tercipta
sepuluh perjalanan waktu mengkisahkan
tautan rasa dari separuh catatan Yang Kuasa
antara gelak yang cipta, juga derai yang pernah
lerai
pada lembaran suratan kita
masih ingatkah?
DDH, 24072014
Senin, 26 Mei 2014
SENJA, MALAM DAN EMBUN
A, manakala senja menitipkan senyuman. aku menangisinya, A
pucuk-pucuk kerinduanku telah tua di ranting masa, dan itu menjelang malam.
kamu tau, A? malam kita sudah tidak hitam. dia benderang dan menyilaukan. aku lihat putih, biru, merah yang kuning mengikatnya.
A, dimana aku temukan kembali. cawan-cawan tempat kau dan aku menuang manja. lalu kita mencicipnya bersama-sama. aku rindu senja kita meski malam berubah warna..
masihkah kau ingat, A?
sebulir embun yang menggantung mesra di tangkai malam. beningnya pernah kau kecup sayang sebelum lesap menguap bersama kabut pualam
sekarang embun kesunyian, sedang mentari masih jauh dari bayangan.
A, tidakkah kau merindu sejuknya embun yang titik-titiknya pasrah di jendela kamar juga daun pintu kamarmu?
A, biarkan senja mengabarkan hitamnya malam yang telah siang. biar embun tetap menjadi raja dan ratu pada batang dan ranting-ranting harapan. kita tetap sama, kan?
menikmat secangkir hangatnya kopi cinta kita.
dalam citra hati yang tiada terpungkiri.
aku rindu kamu, A
DDH, 21052014
*A bukan sebuah inisial siapapun hanya sebuah nama imajinasi
MELATI PALING MELATI
separuh perjalanan malam
lindap menyusup di sela jemari dingin yang gigil
adalah melati
jatuh sebelum tersunting purnama
yang mengeram rindu pada wewangi putihnya
melati hilang satu kelopak
putiknya tak nampak
sembunyi di balik tirai-tirai tirani
yang dicipta moyangnya yang purba
dan putihnya paling melati
tenanglah kau melati
aku simpan kau dalam jambangan hati ini
kenangmu lekat di keningku
bersama peluh yang wangi saat bersamamu
DDH, 24052014
KETIKA
: sang pemetik sajak kehidupan
aku adalah puisi yang dilupakan penyairnya
beranak pinak di luar asuhan
mengakui aksara sebagai ibunda
yang menyusuinya hingga puluhan purnama berganti rupa dan warna
aku ini anakmu, penyair!
terlunta tanpa asupan gizi
disunting sekawanan bait
tanpa rima kebahagiaan
terpaksa akupun menjual anak-anakku, aksara
dengan bandrol di bawah rata-rata
akulah pengikut jejakmu, penyair
yang membuang kumpulan puisinya yang masih muda
sekarang, bermacam kertas aku cumbui
berpuluh tinta aku rasa-i
hingga binasaku sebagai puisi
dari kantong rahim yang tidak peduli
DDH, 27052014
Selasa, 20 Mei 2014
TANPA GULA KALI INI
mari ngopi, tuan
mumpung pagi sedang riang
tangannya bertepuk tangan
sesekali membelai sayang
kopi pahit, tuan ...
kali ini tanpa gula
kata dokter demikian
cukup di minum dengan segenap senang
manis kesumba akan tercecap
mari kita teguk kembali, tuan
cawan-cawan serupa cangkir
tanpa kontaminasi
tanpa rasa mencurigai
kopi ini, kopi kita
seteguknya adalah cinta
DDH, 18052014
KOPI SENJA
tuan bersorban hitam
duduklah dengan tenang
aku bawakan senampan kopi,
di awal senja sebelum tua
iya, senampan tuan
biar kau tetap disini
menemani hingga malam menjelang
dan hitam memelukku erat
pelan-pelan, tuan
meski senja hanya sebentar
tapi kopi kita senampan
habiskan ya, tuan
ampasnya jangan kau buang
biar jadi ajimat cinta
tentang senja, kita dan kopi
yang bercangkir-cangkir
tersaji dalam pertemuan
DDH, 19052014
HILANG JUDUL
semalam aku berbincang dengan rembulan. di wajahnya
aku titipkan kasih sayang
biar dia melihatnya meski di tanh yang berbeda
rembulan mengabarkan, tadi
kekasihku senang memanggul sunyi
bersiul seraya memetik
kasih sayang yang kau gantung di raut bibirmu yang sabit
lalu aku menangis sebentar, yang airmatanya terkencani lara
rembulan membelaiku sayang, kecipak di telaga mataku yang nanar
"jangan kau bawakan dia airmata!" pintaku pada rembulan
lalu aku selendangkan pelangi senja dilekuk sabitnya
"berikanlah itu padanya" bisikku pelan takut sang bintang cemburu aku memeluk rembulan sejenak lalu
katamu, dia tersenyum dan berjingkrak
hilang sunyinya dan dia menari berselendangkan pelangi
akupun mendekap erat bahagianya
DDH, 20052014
RINDU SETANGKAI MELATI
terpenjara dini
tersekat sepi
lamat lumat sendiri
sesaat kuncup, layu memburu
--aku--
masih sehelai
sisa di tangkai
sedang kelopak
mulai menjulai
rekah, rekah, rekah
mekarlah dengan indah
mahakarya Sang Pencipta
merindu wangi semerbak taman syurgawi
putih, putih, putih
jadilah suci paling damai
teman sejati perengkuhan
setangkai melati di keabadian
rinduku, searoma harummu
cintaku, seputih warnamu
biar layu, biar mati
tetap mewangi di taman hati
DDH, 10052014
SERAUT WAJAH KEKASIH
Dan waktu terus berlalu, wajah-wajah sendu berpurdah airmata menyelinap dari sebalik kelambu.
Kelambu sunyi yang di tepinya merenda sebaris benang kehampaan.
Hari terus berlalu, mengikis perih dari kaki waktu
meninggalkan jejak paling bisu, antara kau dan aku
O, kekasih anginku
kapan masa kan terbangkan asaku untuk bersama, mengguratkan kisah sepanjang galah yang tiada terarah
ada lelah dalam raut wajah paling sedih
menanyakan rindu yang tersesat di ujung harap
Hingga kapan?
tanyaku terhenti di bibir pagi, saat mentari masih terpejam
dan saat rindu belum terjawab
DDH, 10052014
ABJAD ITU "A"
"A, maafkan aku! Terlalu sering membuat luka dihatimu. Terlalu sering lembar dusta aku berikan. Meski kau selalu tersenyum dan bersabar."
"A, aku memang pendusta yang jujur tentang cinta. Aku polos dalam sayang, meski hidup selalu aku permainkan."
"Bila masa itu tiba, masa kita bertemu mata. Dan bukan lagi tentang kata juga aksara. Tentang kita, A. Apakah kau akan mengenaliku? Sedang wajahku tak secantik pelangi dalam puisi indahmu, ragaku bukan senja yang memukau netra, dan suaraku tak semerdu denting dawai hati dalam benakmu."
"A, aku ingin dengar sekarang. Sebelum netra ini jujur menerima, sebait sajak samudera katamu yang bertaburan membentuk pesona paling nyata indah."
"A, jujurlah padaku. Meski dusta selalu menjadi siluet dalam syair kehidupanku."
DDH, 10052014
KEPADA SEKEPING HATI
datanglah dengan kelembutan, bersapa mesra
tautkan rasa yang bersemayam antara siang dan malam
adalah senja yang ada diantaranya, melukiskan
tentang lembayung senja di ufuk terBarat
aku lihat sekeping hati terlunta bersama angin dan jatuh pada gugusan awan
yang masih perak beralas selendang hitam serupa siluet
sedang disini ...
dalam dada ini, sekeping hatiku menghilang
kosong ...
rongga hampa tercipta
DDH, 12052014
SAJAK KAMU!
'kamu' terngiang di telinga
menghujam jantung
-hilang detak-
bersarang di rongga luka
mengalirkan darah serupa airmata
'ku'..., berikan sayatan kecil paling tipis
ngilu
bercampur cuka yang asin
mendidihkan sukma kala bertapa. mencuri
sisa-sisa berita tentang 'akunya kamu'
tapi 'aku' menangis. dalam riangmu
besorak sorai memegang piala. kemenangankah?
atau sandiwara setaraf telenovela.
'kamu' berjingkrak. melodi sumbang
dalam bait-bait tuan pena
yang inginkan tepuktangan
sedang penontonnya terlelap
maaf 'aku' menangis sedikit tertawa
'kamu' menikam terlalu dalam
sakit! dan tak mau lagi
DDH, 13052014
MELUPA SENJA, MEMELUK MALAM
adalah senja terlupa, di bangku mana aku tinggalkan
jingganya menangis mencari warna
yang samar hampir saja pudar. masihkah ingatan
akan kembalikan rona-rona yang hilang?
sedang masih saja aku peluk malam, erat!
selimutinya dengan kasih kehangatan
dalam hitamnya
cinta berbunga bermekaran
dan di bangku itu, di tepian hati yang sepi. aku temukan
senja menangisi bayangan masa
menghitung airmatanya yang jatuh
satusatu genangi waktu
aku dekati senja, nampak bimbang
sedang malam merengkuhku mesra
menarikku dalam hitamnya yang abadi
melukiskan pelangi di kelam hari
senja masih menangis. satu dua butirnya
dikantongi. untuk menebus selengkung
senyuman yang lama tergadaikan
malam semakin erat, memelukku hangat
manjakan damai dari kedalaman
nyaman keindahan di palung rasa
aku terharu, lalu menangis
aku kumpulkan satusatu
butir yang sama kepunyaan senja
tentu dengan warna yang berbeda
senja enggan beranjak, malampun enggan melepaskan
dan aku diamdiam
mengumpulkan butiran airmata
entah suka entah duka
hingga belanga penuhi sesak
DDH, 15052014
TINGGAL
andai saja semalam rembulan
sedikit lebih terang, mungkin aku bisa
melihatmu yang bersembunyi
di balik dedaunan
yang rindang berlumur temaram
andai saja bintang, tidak
mengumpat awan di beranda hitam
mungkin pawana tidak ragu
menerbangkan selembar
asa-asa yang sempat menghilang
andai saja pagi ini. mentari
menseduh secangkir kopi dari dapur
waktu yang terlampaui
mungkin hangat terjaga, kala
bibir kita menyentuh
secangkir kopi dalam sebuah citra
DDH, 16052014
TENTANG GERIMIS RINDU
ini tentang hujan, siang hari
titik rintiknya menitik sedikit
bukan hujan! katamu sayang
gerimis ... iya gerimis ini namanya
airnya panas berbutir-butir
sebesar kelereng dalam genggamanmu
tidak! kamu salah, katamu sayang
ini sebesar rindu yang terpecah-pecah oleh gelisah
aku mainkan sebuah lagu
tentang siang, terik yang mencekik
dibasahi gerimis paling panas
merintik dari keningmu yang putih merah
ini keringat, sayang! kamupun tersenyum
dan ketika tanganku tengadah,
titik-titik tetesan hangat itu rindu
bermain menggenang sesekali mengkecipak disela jemari aku
gerimis itu keringat, rindu
yang mengembun sejak jam dinding tak lagi berdentang
mungkin rumahnya terbakar
olehmu, olehku tanpa oleh-oleh
selain selengkung senyum
di sudut bibir keinduan
--siang ini--
DDH, 16052014
PURNAMA AKU RINDU
aku purnama
di mimpimu adalah jelaga
yang kelam, yang hitam
selalu tak tergenggam
kini purnama
erami rindu yang gelisah
menangisi awan-awan hitam
separuhnya kau tenggelam
gerhana, aku rindu!
bawakan sebias kilaumu yang kini temaram
lukiskan wajahnya di simpang waktu
untukku ... dan untuk kita
-purnama-
DDH, 16052014
LEMBAR LONTARKU
: untuk Mak(mu)
siang ini aku lihat pelangi
di rintik gerimis keringatmu
wajahnya sendu, sedikit lelah
mengayam hari, menakar mimpi
-untuk anak, anakmu-
kamu yang anak, anaknya
dirundung resah memetik gundah
pada musim bunga bermekaran -waktu itu-
inginkan putik meski tanpa kelopak
dan mak, mak-mu selalu betanya
bunga manakah kelak hiasi beranda
dan kamu hanya diam mengulum senyuman
katakanlah pada mak, mak-mu
aku titipkan selembar doa
juga salam paling indah
dari sudut taman tak bernama
aku kirim juga senyum sempurna
kelak temani mak, mak-mu dalam pelukan
-ntah! -
DDH, 16052014
SALAMKU BUAT IBU, IBUMU
Purnama mengantungi senyuman
Separuh malam bertabuh kesunyian
Sebaris salamku mengetuk pintu sebuah hati
Dia tertidur! Dalam pelukan selimut malam, hitam yang hangat
Disamping sebuah pintu
Kamu tersenyum, maikan katakata rindu
Aku usap manja pada dagumu yang bersarang segala demam
"Titip salam buat ibu, ibumu"
bisikku menyasar tiap lekuk selaput telingamu
Kau masih tersenyum, mainkan kata rindu
Yang bertebaran penuhi jagad aku yang murung
"Titip salam buat ibu, ibumu"
Kali ini berhenti di hatimu
Lalu kau lipat salam sayangku untuk ibu, ibumu
Menjadikannya sebentuk pesawat
Yang kau terbangkan tepat di telapak kaki ibu, ibumu
Aku tersenyum dan kembali mendiami purnama
sebentar lagi gerhana
DDH, 17052014
SEBUAH KISAH
tentang sebutir airmata
yang menetes di sela kelopak sembab
lajunya tersendat, dia menggugat!
anak-anaknya telah pergi
tinggalkan tempat sejak sang putri terluka
mereka terusir, dari tempatnya mengenal asin yang berbulir-bulir
sekarang tinggal sebutir
yang takut renta di pelupuk putri
dia pergi, saat putri berubah merah
-marah-
lewati padang putih yang cerlang
kemudian terjatuh ke jurang
jiwanya tak ada yang menyayang
tak ada pula sejumlah kenangan
selain asin tertinggal, pada setiap kisah
tentang kegetiran
DDH, 17052014
MERAHKU PAGI INI
sejurus teriakanku meluncur
menembus cakrawala, merobek langit-langit hati
mencecarnya gencar, tajam, dalam-dalam
jatuhlah hujan!
serupa darah merintik kental
pelan menimpa serenta rasa
yang sepagi tadi tercabik, koyak
bersatulah merah!
darahku, darah langit
menggenang melewati jakun mimpi
-musnah, hampa, seketika-
tidak untuk kembali
menatap tetesan menjejaki titian
sekian jarak dari kau berdiri
hingga ujung perjalananku nanti
-usah kau panggil aku lagi-
DDH, 18052014
Langganan:
Postingan (Atom)