Dawai Hati

Dawai Hati
Rindu kamboja pada setangkai bias jingga senja dakam alunan denting dawai hati
Tampilkan postingan dengan label Kisah Klasik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Klasik. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Agustus 2014

Maaf Jika Berbeda

Pagi ini ada yang hilang dari aroma secangkir kopi, mungkin kehangatan yang mulai mendingin karena cuaca yang telah gerah sepagi ini.

Ada yang kurang dari sapa murai tadi itu, entah celoteh tanpa nada atau notnot yang hilang tertiup angin kemarau pagi ini.

Sungguh hari ini adalah beda. Aku juga. Baju dan riasku hari ini berbeda. Pun tawa dan bahasa yang akan aku berikan nanti.

Maaf jika kita berbeda

DDH, 08082014

Rabu, 02 Juli 2014



kesunyiaan adalah teman sejati dalam mengarungi kehidupan tanpa belas kasih. tak ada teman yang lebih mengerti dari arti kesunyian selain dirinya sendiri, tak ada kisah paling indah selain rajutan sepi pada dinding-dinding kamar tanpa jendela pun daun-daun pintu. semuanya adalah kehampaan yang mengisi setiap ruang dan rongga jiwa kehidupan tanpa nama. lalu masih tersisakah gelak tawa celoteh mesra burung-burung saat mentari pagi pamerkan keindahannya di pucuk-pucuk pinus dan rasamala yang jadi suluk dalam perjalanan sang waktu?

masih adakah sunyi paling sepi ketika malam menjadi mahar atas semua kristal-kristal bening tanpa kedung penampung segala lara dan penat? dan purnama-- lihatlah purnama yang hilang cahaya saat gelapnya awan merenggutnya menjadi temaram paling dangkal lalu mengusirnya pelan dan membungkam diam dalam putaran waktu tanpa tanya pun jawaban.

aku---masih di sini, mengukir sajak-sajak dingin tentangnya. tentang kesunyian dalam rengkuh sang waktu di bawah chandrama tanpa cahaya. hingga saatnya nanti, aku--kamu mengerti


DDH, 03072014

Selasa, 13 Mei 2014

CINTAMU HOROR



seminggu aku di gantung
tapi nyawaku masih senang bersarang
: gentayangan!

mencari sepiring kemenyan
diatas tumpukan aksara cinta
yang segudang, yang terlantar

cintamu horor, nRi!
lebih horor bertemu pocong
loncatan rinduku lebih tinggi
dan pasi cintamu lebih dari hantu

nRi,...
gantung saja aku di tiang bendera
meski mati tapi dikenang
diberi hormat setiap senin
berkibar seantero negeri

tapi aku belum mati, nRi!
mengapa sukmaku gentayangan?
ingin mengajakmu jalan-jalan
dengan melompat lompat ya, nRi?

cintamu horor
lebih horor ketendang pocong
buat aku terjatuh dan tersungkur
lalu mati dalam 'hidup'ku

cintamu horor, nRi!

DDH, 14052014

Jumat, 09 Mei 2014

AKU RINDU



gemerisik ilalang bising. menggores
sedikit luka lama sebesar kiwi
kabarkan jelajah riuh suara
ilalang bermanja tanpa hujan. adalah rindu


isyarat gundah di bawah tengkuk kesepian
meringkuk pasrah, mengkisah bilur hitam yang nikmat
rasa paling kamu sedalam ceruk tengkorak mengoyak. sesaat datang
kemudian berparade lalu hilang
pada belantara rindu di lentik bulu matamu


aku rindu gemuruh samudera tanpa ombak
melintasi galur penuhi onak kenikmatan. aku rindu
setangkai harapan lincah bermain di setengah kepala
masih rindu....

DDH, 02 mei 2014

ADA RINDU



butir bulir rindu yang bertahta
antara malam dan fajar
menyisakan cerita tentang tasbih yang belum usai

diantara lapaz yang tersengal
mengunci rapal namamu atas rindu membelenggu
menjerat mesra
berkidung hampa paling bisu
yang kemudian jadi semak perdu: kamu

ada rindu yang rimbun
gagu menyulam perih, sedih. dan kamu
wahanakan buncahan rasa tak tereja masa
dan aku yang rindu
menuliskan bait aksara pada dinding waktu
bersama biru kekalkan mimpi, kita

DDH, 02052014

BULAN SEPARUH KITA



Lihatlah sayang, bulan
Separuh memangku bintang
Senyum merekah seraut wajah Mei

Sayang, sebelum gigil menyapa
Mencumbu sebagian naluri pincang
Sebelum embun mencuri perhatian
Selimutilah mayang manikam
Tempat rindu meluah pasrah
Kamu, berlabuhlah!
Di dada malam saat jerit jangkrik menrimakan lagu
Tentang cinta
Dan itu kita

DDH, 03052014

AKU DAN SIMBOK



Wanita itu separuh abad, memanggul bungkuK
Mengumpul ranting kering, penyambung hidup
Tegapnya berlalu di mamah renta
Meski kobar semangat setara praja

Tertatih dia menebar benih
Pada sawah-sawah pemeram kerinduan pada hujan
Sedang capung, belalang mencumbu batang padi
Sejenak mesra kemudian pergi
Dia berselingkuh dengan ilalang kering padang tetangga

Simbok kembali menyeret langkah
Susuri jalanan setapak ular membasah
Di punggungnya beban terberat sore itu
Perutku, perutnya juga adik turut bersama

Peluh membanjiri kulitmu yang keriput
Seulas senyum ompongmu, Mbok
Buat aku rindu ingin memeluk
Membantu usap keringat panas
Dan meringankan beban di bungkukmu

Sinilah, Mbok …
Sejenak cengkerama
Bercerita tentang sejarah
Kebaya yang tiada pernah menggantung
Lekat bersama, hingga koyak
Dari dulu hingga kini

DDH, 04 Mei 2014

AH, TUAN!



selamat siang, tuan
mari kita makan
sepiring hati ang tercincang marah
berbumbu cemburu
dan berkuah airmata

nikmati saja, tuan
esok aku buatkan resep baru
pilihanmu, tentunya ...

ah, tuan
usah gelisah! duduk yang tenang
aku masih kuat menenun sabar
'kan aku hiaskan di piring perjamuan

bila kurang, hatiku masih sebelah
ingin menu apa, tuan?

DDH, 07052014

AKSARA UNTUK TUAN


Tuan, siang telah berlalu
tinggalkan aroma terik di dinding hati
membakar rasa yang memburu rindu
semenjak embun berpamitan tadi pagi
: engkau dimana?

Sederet cerita di berandaku
mengkisahkan tentang kamu, Tuan
kisah abu-abu tertutup kelambu
membiru dan tak bisu
: aku rindu

Senja baru saja datang
menghampiri segudang tanya
tiba saja mendatangkan badai
: aku cemburu

Malam melambai tenang
bawa aku dalam pelukan
menghapus kisah seharian
dalam peluh luruh yang retas
: aku kesepian

hingga embun mengambang bayang
hingga matahari terbit pandangan
aku masih sendiri
di kesunyian padang kerinduan
tanpamu lagi

DDH, 07052014

AKU DAN KAMU, KITA



kemarin, kita masih merindu
meronce tawa di sela bait tercipta
memahat kisah pada tumpukan aksara dan kata
kita yang bahagia selepas senja berpamit pulang

semalam menjadi hening
tak ada kata sapa singgahi telinga
aku yang mencekam, memeram asa kerinduan
pada bait gigil malam
paling pualam di kening impian
masih terjaga hingga embun tercipta
lengang suaramu tiada menjelma
hamburan aksara yang biasanya pun tiada
--aku merana--

kita masih diam sejarak waktu memecah hampa
sampai mentari membelah cahayanya
sunyi setia bertahta semesta rasa
aku, kamu semakin hilang
dan kita itu sekarang kemana?
--rindu terkurung paras jelita tumpuan cinta semu--

demikian aku mencintaimu
tanpa ke-kamu-an tersandang di pelupuk netra

DDH, 08 mei 2014

TETES-TETES KERINDUAN



terik telah menguras keringat panas bergolak di kulit paling ari

yang membentuk embun-embun kerinduan yang asin
di tangkai hari

hadirlah!
kemasi gundah yang kelupas raga siang menjadi helai serupa bara
dan geliat harap paling sinis
meracun setiap buih tersisa

jadikan aku benci!
membunuhmu dengan aksara terpanas dari kerak terdalam
patahkan saja segenap ingin yang penuhi awan hitam itu!
biar beratnya tak menggantung di keningmu yang murung

bawalah pergi!
sejauh matahari pendarkan cahayanya
secepat halilintar kala siang tanpa hujan
dan biarkan ...
keringat berembun, luruh membanjir
aku yang memeluk terik
: pasrah


DDH, 09 mei 2014

BULAN PALING PURNAMA



andai saja angin tidak sembunyi, mungkin tangis awan tak pecah di cawan hari. tadi!

andai saja nanar netramu singgahi cakrawalaku, maka purnamalah aku di bulanmu yang prematur

hingga saga memeramnya menjadi nila
hingga senja meminang selendang siluet jingga
aku masih bulan yang memangku airmata
menjatuhkan gelap paling risau pada kelahiran malam yang gulita

dan masa ini berlorong hitam
berdinding tanya, masih tentang rembulan
masihkah lahir purnama
atau gerhana yang saga tepat dimatamu

aku sendiri memanahnya hingga tepat di jantungnya yang bulat pasi setengah merah.

DDH, 09 mei 2014

Minggu, 04 Mei 2014

TERKURUNG CENAYANG



masuk lingkaran
cenayang bertepuk, lalu tertawa
aku berputar; lupa
gelap semesta kecil, ramaikan jagad kelam
entah doa atau mantera
terlapaz manis menukik lahir
sejenak tenang, sesaat gusar
berputar-putar, seolah-olah
ah! cenayang...
selalu membayang kembang setaman
sumur-sumur berubah rupa
aku terpedaya
keluar
ingin aku keluar
jadi cenayang, tanpa
lingkaran semesta mantera
menghilang, hilang, hilanglah
aku berubah, semesta putih
menangisi yang hitam
bayang tetap turut
sepanjang kuku
pada jemari
dan aku
menggerutu
hingga masa berlalu
bersih, putih, putih, dan suci


DDH, 29042014

Rabu, 23 April 2014

BUKAN MALAM SAYANG

saat aku gelap, bukan hitam
tidak juga kelam warnai jelaga
pun pekat yang ikat sanggul dewi malam
aku, simpan diam-diam


saat penat setubuhi rebah
lelah sukma merajuk jingkrak
aku sandang, segala pekik merintih sayang
klimaks naluri kuasai diri
lalu, hitamkan saja aku
kemudian

ini bukan malam, sayang
matamu resah memadu pandang
rembulan seketika meramah
jatuh di pelukan aku yang

dan aku hampir terlupa
ini bukan malam
sayang


DDH, 23042014

KEHILANGAN HUJAN



detik itu aku berlari bersama mendung
berputar sekitar poros yang kian laun
berguncang tiba-tiba ...
lalu aku tersungkur. sujud
yang aku cari tidak ketemu

entah ini detik keberapa aku tak tau. wajahnya
wajahku seakan lusuh, kering! dan
mendung masih bergantung murung

mengapa tidak kau jatuhkan saja ... beban
berat menggelayut badan. turunkan!
rintik atau derasnya hujan, biar tiba di pembaringan. kekal
sedang kawannya menanti dengan sejuta doa juga rapalan matra. biarkan!
lepaskanlah, detik ini terasa menjemukan. dan
aku tak mau menunggu untuk detik tambahan. hujan
tak mau aku kehilangan.

DDH, 17 April 2014

SECANGKIR SAJA, CINTA



bangun sayang, pagi menjelang
tak ada kokok bersahutan
hanya senyum kehangatan, menyambut jaga
juga kepul mengharum
secangkir kopi hitam, cinta

sini sayang, aku manja pagi
berpeluk damai sebening embun
kali ini aku bercerita
tentang indah di pelupuk netra
: kamu

mumpung terik belum mencolek
kita bermesra di beranda
berteman secangkir kopi
juga tawa bersama, alam berbincang

mari sayang, secangkir saja
cukup bukan?

DDH, 18 April 2014

LELAKI BERKEBAYA



Senyum ramah, nikmatnya renyah sampai di kulit
Kulit apakah?! Tebal atau tipis
Raut muka penebar kata lelah
Rancu menjalar, kebayamu terkait ujung pena
Hah?! Masa iya...sampai segitunya....

Aku lihat kau tegar
Jalanmu gemulai atau lunglai entah
Hampir rabunkah aku
Setiba angin datang mengaku badai
Hanya sisakan embus pengibas rambut

Kebayamu, Tuan! Ups...nona....
Hahaha...aku salah atau buta?
Tapi iya...
Rautmu mempesona, gemulai molek berkata-kata

Ah, sudahlah!
Mungkin ini sudah tradisi
Ups, salah!
Mungkin ini trend
Dan aku adalah penonton
Yang gigit jari termakan pola
Labirin gila!

DDH, 18 April 2014

ELEGI



sesak
penat
praaaakk!!
tikam riak-riak rasa

tumpah, luah
amarah merah
jadi gundah
singgahi ujung pena

haruskah?

cekikik tawa atau rintih perih
kala dera pacu naluri
seakan mati
tenggelam sunyi
ringis tangis 'tak berarti
o, elegi

DDH, 19 April 2014

KAMU 2



kamu yang aku sebut puisi, memuisi
di semesta kerinduan bait aksara malam yang kurasa, tiada
kelam menyelimut sang kegelapan syair-syair para pengais kata
rampai ronce kebahagiaan terpasung sendu di ujung pengharapan

kamu yang kusebut puisi, datanglah bersama rima musikal abjad-abjad tak berwarna. tak apa
biarkan aku pelukserupa selendang puisi atas namamu yang tergurat seabadinya rasa yang entah sebentaran menjelma.

dan aku masih menyebutmu puisi saat embun mulai lahir dari rahim sang malam tanpa bintang. hanya
pasi rembulan sendu menebar aura mistis pada tiap bait cahayanya yang temaram

dan kamu masih puisi, yang puisikan jiwaku saat rebah menggugurkan tiap helai kelopak kelam

DDH, 20 April 2014

AKU, DULU



Istana pasir karib memasung keluh
Pelepah-pelepah nyiur jadi kanvas setengah hitam
Terguris pena tak bertinta
Dan gemuruh dari tengah sana tak kunjung surut
Menghantam setiap dinding-dinding karang serupa batin
Mengoyak alam fikir!
Ketika tradisi terpangku besi

setengah pasir waktu mengabarkan,
buih-buih berubah menjadi riak mengejar harap di bibir pepantai kemerdekaan
angin baru mula membelai cita
jadikannya setangkup terang
dalam gulita rongga terpasalkan
: yang tua lalu

itu aku, dulu
saat sanggul dan sarung tersekat tabu
lalu 'ku gerai sebagiannya,
jadilah aku, sekarang
tak ada jari lentik yang "hanya"
sekarang adalah sama
duduk semeja dalam jamuan nafas kehidupan
: lupakan kegelapan terbitkan terang

(ketika beda terkadang indah, dan sama timbul petaka. tapi semua adalah realita)

DDH, 21 April 2014