Dawai Hati

Dawai Hati
Rindu kamboja pada setangkai bias jingga senja dakam alunan denting dawai hati
Tampilkan postingan dengan label Kidung Sunyi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kidung Sunyi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Agustus 2017

JUDI

Jika lelahku adalah musibah,  seharusnya tak kutunggu dengan setelah
Jika hanya sia sia yang menjadi sudah,  seharusnya aku buang secepat entah
Tapi semua seakan menanti jeda,  mengharap depa
Untuk sebuah ketuk yang dinanti sekian denyut
Untuk sebuah ambigu
Mengundi pasti yang sebenar semu

DDH 220817

Senin, 30 Juni 2014

ADAKAH

demikian waktu mengabarkan tentang kerinduan yang bertahta
di reranting juga pucuk-pucuk cemara pagi ini
melalui sebuah lagu
melalui sebuah syair
hati bercengkerama mesra
pada secangkir hangat kopi hitam pekat

sesekali burung gereja menggoda
celoteh bimbang, kadang candaan
mengukir senyum yang kadang terpaksa
karena kaku dan kelunya tuk berkata

adakah sepiring harapan tersisa
atau secawan doa mengangkasa
untuk atma-atma penuh cinta
dalam dekap rindu yang semakin erat

sesak !
terkadang penat
mengubur hidupkan semua rasa
di pusara-pusara tanpa nisan

waktu masih melagu
sejumlah tembang masih 'ku dengar
meski sayup, samar kemudian tak terdengar
hilang bersama peluk erat lelah berpeluh resah

DDH, 18062014

PUTIH


Putih
kini putih, selimuti diri
melupa sebuah warna
mengubah sebuah kisah

putih kini singgasana
tempat aku melihat dunia
tanpa nama juga lara
tanpa hampa juga nestapa

putih kini kelopakku
tanpa putik
putih kini istanaku
tanpa punggawa

biarlah semua memutih
pudarkan semua warna yang ada
hilangkan sejumlah prasangka
dalam putih kini 'ku berada

DDH, 18062014

GAYATRI





duhai gayatri ...
sekuntum mawar berselimut duri tajam
indah menawan sejuta pesona
dalam balutan kelopak yang kau pagari mantra

mantramu, gayatri
menyihir atma-atma kesepian
liukan tubuhmu di ayun sang bayu
menyebar wangi aroma putik penuh misteri

gayatriku ...
tetaplah seperti itu
menghiasi jagad dengan kecup bergincu semerah darah
tetap tenang selayak samudera tanpa ombak

gayatri ...
dimanapun kau berada
selalu kudekap wangimu sepanjang masa


DDH, 22062014

EMBUN ARUNA





pagi ini kau berpuisi
tentang moksa tanpa derita
tentang jerih tanpa pamrih
tentang ranting kering menjemput ajalnya
di hamparan butala gulita

pelan ragamu menyusut
bening menyusuri titian takdir
terhenti di ujung paling dangkal
kemudian jatuh menjadi titik
titik yang lesap
hilang terinjak masa
separuh cahaya arawinda

DDH, 23062014

UNTUKMU




Duhai Engku,
sembilan purnama janji terpatri
tiada goyah meski seribu kecam merajam
serbuan badai meluluh lantakkan harapan
yang berpuing hingga ribuan masa

Engku ...
adakah kau merasa
di balik bilik-bilik bambu tersekat ratusan tanya
masih ingatkah engkau pada sebuah hati
yang namamu kuat tersemat di sanubari
ribuan menit terlampaui

Bila ingatanmu telah kembali
bila namaku menggubah rasamu lagi
datanglah, Engku ...
di sini aku setia menanti
hingga kau berada di sisi, pun seribu masa berganti


DDH, 14062014

KERETA SENJA




Nun, masihkah kau teringat? tentang kereta yang melaju senja itu. Saat jemari kita terlepas perlahan meninggalkan kisah paling lara sepanjang musim kebahagiaan kita.

Nun, biarkan saja kereta menghilang senja ini. Bersama ragamu yang meninggalkan sekeranjang tawa yang masih ternginang.

Stasiun ini, Nun ...
dimana kita bertemu untuk pertama dan terakhir kali
saat tatapmu beri kesejukan dan damai, tetapi menghujamku dalam-dalam
saat kata maaf itu mencabik semua mimpi. Mimpi kita, Nun.

Bayangmu semakin jauh, menembus terowongan di balik bukit itu. Kemudian menghilang, sisakan seribu kenangan dan sebuah karang yang menutupi tenggorokanku, hingga sulit bagiku berkata dan bernafas. Mungkin sebentar lagi, aku mati dalam peluk impian yang terbengkelai.

Nun, jaga dirimu baik-baik.

DDH, 23062014

JUNI

Juni ...
dendangkanlah kembali
lagu rindu yang sering kau nyanyikan dulu
susunkanlah kembali
bait-bait cerita tentang kita yang sempat hilang

Juni ...
di matamu ingin aku temukan kembali
seribu warna pelangi penghias mimpi
sejuta aksara pendamai jiwa
setumpuk hasrat yang hampir karat

Juni ...
mentari masih pagi, bukan
teriknya tak luruhkan peluh
sapanya dingin sedingin pualam
masihkah kau terdiam?
sedang sajakmu telah berdendang

Aku rindu, Juni
dalam pelukan tawa pada sebaris kata
bukan tentang cinta
tapi tentang kita yang selalu mesra

DDH, 27062014

TAK MAU SUNYI

dekaplah aku, wahai ...
tubuh yang lelah, kalah
hampir menyerah

kering sudah telaga, di
kelopak mataku yang saga
bergelayut resah di kantong netra
yang lebam
perih ...
mungkin perih
ketika anak-anak angin mengetuk
pagar-pagar lentik yang berkedip

dekaplah !
sekali ini saja
biar dingin tak lagi merampas
selimut sang waktu yang
pernah menjadi mahar
di gigilnya sepi tanpa kekasih

biarkan saja rembulan cemburu
lalu sembunyi di balik malam bisu
tetaplah dekap aku
hingga gelap melahirkan terang
hingga embun purnakan ritual paginya
aku tak mau kau pergi
meski sedetik jarum mengedip

dekaplah aku, wahai ...

DDH, 28062014
.

Minggu, 04 Mei 2014

NISAN



pada baitnya lagu membisu
sedingin pualam membentuk gigil yang lebam di bibir malam
merayapi impian tak bertuan
singgahi rongga-rongga tak berperikemanusiaan

adalah nisan 'ku sandangkan di bahumu
memberat tanya dian yang redupi jelata pikiran
diamlah!
sejenak kabut biarkan menghitam
di kejauhan aku lambaikan tangan
-selamat tinggal-

DDH, 02 mei 2014

AKU SELALU

selalu pensil
melukis indah dalam temaram
mengukir tawa sebalik luka
warnai setiap detak jantung masa


meski....
tajamnya membekas
hitamnya mengabur
pun...sempat patah
terbuang
tak terlihat
hilang dari ingatan
terganti
yang baru, yang warna, yang tajam
lalu sama....


DDH, 30042014

Rabu, 23 April 2014

KIDUNG KESUNYIAN



pada lembah terdalam, ada sebuah pohon kehidupan. padanya
aku puisikan setangkai harapan
tiada bercabang pun berdahan
biarlah tetap sejulur akar

bila tibanya kuat mencengkeram
meski rapuh tiada terelakkan
sampai bila tercipta belukar
merimbun semak-semak, dan
aku masih berpuisi
dalam lantun baris sajak tak memuisi

sekarang aku kehilangan pucuknya harapan
yang dulu hijau meski selembaran
merepikah? atau berpaling bersanding pawana penyebar sintru dalam tubuh cantaka lalu

aku selayak candala berpuisikan mantra dewa
tertabuh indah kemudian lesap
lenyap ...
tiada di ingat
lalu hanya lembah sunyi yang mengalunkan kidung asmarandhana hampa, bersama pohon lapuk ditemani rayap-rayap penghisap segala sari
: megatruh berdenting

DDH, 16 April 2014

Selasa, 15 April 2014

YANG SAKIT


aku yang terjerat di senja
hilang warna kain penyibak
terkoyak tanpa hijab
ditertawa sabda alam
yang tertatih katanya sakit
merintih dalam gelak dusta
susah merangsek dakian durja
lumpuh nyata, derap impian
ilusi meraja
aku yang dia sakit
yang mengerang di pijar lara
kenyang nestapa memenuhi
o, bilik-bilik rongga hidupku
yang sakit akunya kamu
kamunya yang aku mengulit
sejajar episode yang kita
pada bait hidup di dera
(yang sakit aku, kamunya)
DDH, 03042014

BEDA



senja itu tidak seindah malam
jingga pun tak secantik kelam
senja naungan fatamorgana
sedang malam adalah keabadian
jingga hanya siluet bias pantulan
sedang kelam adalah kenyataan

tak ada warna
tak ada nuansa
juga tak tercerita
jauh dari coretan pujangga

masih adakah biru
ketika sosokmu menghantui
antara senja yang palsu
juga malam yang syahdu

aku ingin kukuhkan biru
sepalung raga menguntit kisah
di sela-sela harap yang tiada kunjung tiba

lalu...
masihkah senja jadi bahasan
masihkah biru jadi problema
ketika yang ku mau hanya gulita
bersamamu mengenal makna
sebuah tautan jemari kala netra tertutup cahaya

DDH, 02042014

O, MALAM HITAM



serumpun tanya rembulan
tempat temaram selingkar janji
cabik sedikit tabir malam
tempat hitam bermahkotakan kegelapan

riak malam buihkan kenangan
laju pilu dari kejauhan tanpa tawaran
silang menyesak seluruh tanya
pada hitamkah, kelam titipkan bayangan?

sudahi malam atas gelapnya yang mencengkam
biar aku lepas puja puji paling pekat
yang di sudutnya tertanam pukat
siap seruak tiba saja terlumat

o, malan yang hitam
tanpa kegelapan apalah makna sebuah kelam
hanya rerintih perih tanpa tasbih

DDH, 14042014

SUNYIKU

Saat ini aku butuh telaga tempat semua kerinduanku pada sunyi bermuara. Aku tak inginkan samudera luas yang gaduh ombak juga gelombang. Yang selalu mengucapkan salam pada pantai berharap nyiur tetap melambai dan camar-camar memuji ketangkasan karang karena kokoh melawan gelombang.

Cukup telaga tanpa riak, yang memendam dalamnya kesunyian. Dengan belukar akar-akar tua yang hening pejamkan matanya ketika pawana kecil membelai lentik bulu-bulu mata yang serupa uban di kepala dahan.

Lalu aku menjabat tangan keheningan, yang padanya aku rebahkan rindu selaksa madu paling kental dan aroma yang khas. Tak perlu lagi rasa manis yang kan aku kecap pada lidah yang kelu. Bukan karena aku bisu, atau malu ... tetapi karena rasaku yang terdalam bernaung dalam kesunyian telaga, yang sebentar lagi berubah warna.

Tidak!
Bukan karena dia berubah polah, melainkan keindahan menyapanya dengan berbagai warna pelangi. Yang berkejaran diantara putri-putri. Tanpa riuh, tanpa bising. Adalah sunyi yang candai dewi di tengah rindunya telaga hakiki.


DDH, 14 April 2014

INI TENTANG MALAM

kerucut asa semakin ciut di sudut-sudut paling malam
gelapnya tak mampu menyisir jejak tapakmu yang hilang di antara serbuan kelelawar lapar
tersungkur batu-batu paling hitam dan kejam dari tubir kegelapan malam
yang pada kelam aku sumpahkan nama paling sunyi di kejauhan lubuk terlimbung
: dalam hatiku

sepenggal rembulan menangisi malam yang kelam
bahkan lebih legam dari sebongkah jelaga yang menciptakan dirinya, kukuhkan rasanya untuk yang paling derita

disana ... gemintang tertunduk bimbang, tanyakan sinarnya yang semakin hilang temaram dalam lubuk malam yang cekam
pasi mengulas seraut hitam hingga separuhnya menjelang fajar.

adakah malam tanyakan kelahiran embun yang padanya bertahta semurni cita dalam bening Sang Kuasa?
atau hanya sekedar pelengkap dingin yang gigilnya menyamai embun tak berdosa?
aku bimbang, mengeja aksara malam yang bertebaran di langit-langit paling kelam

aku tidak buta! tapi aku juga buta
katakan saja, malam ...
rambutmu kusut terurai hingga menjuntai diantara dasaran paling curam
deritakah? atau sunyi kau rasa
sehingga angan sebatas angan
asa sebatas asa tak terbatas
lalu dimana letaknya kerinduan paling malam
yang turut jelaganya di tepian telaga matamu
mungkin aku rasa bosan, menemanimu dalam diam
di sudut malam yang paling kelam
sehingga buatku hilang dalam hitam

DDH, 11 April 2014

SENJA



tua di hujung masa
terhunus mata lelaku sendiri
kiaskan? bila mampu
lalu keriput ciutkan nyali tanpa gigi
tercenung duduk di beranda sunyi
menghitung angka-angka
atau juga jelajah sesumbar lusuh
sampai ketika gelap melambai
senja semakin tua
lalu terdiam paksa tanpa aura
bukan lagi kalah atau menang
untung rugi jadi tumpuan sempoa
tapi peraduan sunyi
saat gelap jauhi lentera
: siksa

DDH
Tng, 11 April 2014