Dawai Hati

Dawai Hati
Rindu kamboja pada setangkai bias jingga senja dakam alunan denting dawai hati
Tampilkan postingan dengan label Cerpen1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen1. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juni 2014

EVERAFTER




"Kamu kenapa, Meg?!" Kenzo terkejut melihat ceceran darah di seragam putih Megumi.

"Tak apa," jawabnya singkat sambil menyeka cairan merah segar itu dari hidungnya.

Sudah tiga hari ini, Megumi selalu mimisan. Dan kali ini Kenzo melihatnya, setelah dua hari lamanya Me menutupinya dari Kenzo. Me gadis yang ceria, tidak pernah ada kabut hitam menyelimuti raut wajahnya yang mungil seperti boneka barbie itu. Perawakannya yang tinggi, kecil terlihat lincah bila sedang bermain bola voli di sekolahnya.

Me, adalah sapaan akrab Megumi. Sudah seminggu ini Me terlihat aneh. Dia jadi tertutup dan jarang kumpul bersama teman-temannya lagi. Sachi adalah sahabat Me yang merasa sangat kehilangan dia. Setiap Sachi mendekat dan mengajaknya untuk bercanda, Me selalu menghindar. Yang capeklah, yang sibuklah ... dan selalu saja ada alasan untuk menolak ajakan Sachi.

Teng ... teng ...
Bel istirahat nyaring berdentang. Beberapa siswa berhamburan keluar kelas. Mungkin di dorong rasa lapar atau ingin segera menghirup nafas kebebasan dari pelajaran yang memeras otak mereka. Di koridor laboratorium, Kenzo celingukan seperti sedang mencari seseorang.

"Dooorrr!"

"Ampuuun ..." Kenzo membalikkan badan sambil mengangkat kedua tangannya. Dia kemudian menggeliat sedikit merunduk ketika seorang gadis di depannya, menggelitik ketiaknya.

"Ampun, Me ... udah! Geli tau," Kenzo menghiba sambil mencoba menarik hidung Me.

"Hayooo, lagi nyariin siapa?"

"Aku nyariin kamu dari tadi, dari bawah bangku kelas nyampe dalam rak-rak di lab."

"Enak aja. Emang aku tikus apa? Di cari di kolong bangku,"

Saat mereka saling ledek, Sachi datang mendekati mereka. Megumi langsung berhenti bicara. Kenzo yang tak menahu apa yang terjadi di antara mereka pun ikut terdiam.

"Echeeem ... maaf mengganggu," kata Sachi sambil berniat melangkah pergi. Tetapi tangan Megumi segera menyambar pergelangan tangan Sachi. Dia tersenyum dan memberi isyarat untuk tetap tinggal. Akhirnya mereka bertiga bercanda seperti biasa sebelum seminggu ini.

***
"Sachi, maaf jika sikapku seminggu ini agak berbeda. Mungkin ada sedikit cemburuku padamu tentang Kenzo. Setelah tak sengaja aku menemukan surat-surat kalian di dalam buku Ken. Aku mungkin terlalu egois, tak menyadari apa yang terjadi. Sehingga membedakan cinta dan kasihanpun aku tak tahu. Maaf jika kehadiranku merusak hubungan kalian. Terimakasih telah berbagi hati denganku, meski seharusnya kamu tak perlu lakukan itu. Sahabat bukan seperti itu Sachi. Seharusnya kalian jujur padaku tentang hubungan kalian, bukan malah bersandiwara menjelang kematianku. Tapi aku mengerti, mengapa kamu lakukan itu. Terimakasih kau mau menjadi sahabat terbaikku selama ini. Maafkan semua kesalahanku. (Megumi)

Menetes bulir kristal bening dari kelopak mata Sachi yang sayu. Di lipatnya surat dari Megumi yang di kirim via post itu. Biasanya mereka saling telepon atau berbalas pesan singkat. Tetapi Me kali ini mengirim via post. Dilihatnya tanggal yang tertera di amplop berwarna biru muda itu. Tanggal 30-11-2013, cap post. Berarti surat di tulis tiga hari yang lalu.

Di tempat berbeda--Kenzo juga menerima surat dari Megumi. Hanya ucapan terimakasih dan permintaan maaf yang tertulis di sana.

Kriiiing ...
Ponsel Kenzo berbunyi. "Sachi ... memanggil"

"Hallo, Twey. Ada apa?" jawab Kenzo kemudian. Tweety adalah panggilan kesayangan Ken pada Sachi.

"Oh, iya. Tunggu di tempat biasa ya!" jawab Kenzo lagi. Belum satu menit berlalu, ponselnya berbunyi lagi.

"Ya, Tante? Ada apa?" sahutnya kemudian. Lama dia mendengarkan suara di ujung sana. Tiba-tiba ponselnya terjatuh dan dia terkulai lemas jatuh terduduk di lantai kayu kamarnya. Dia menjambaki rambutnya dan sesekali memukulkan tangan ke lantai. Teringat sesuatu, Ken langsung berdiri dan menyambar kunci sepeda motornya di atas meja belajar.
Dengan kecepatan tinggi dia pergi menuju taman di pinggir danau. Di sana Sachi telah menunggunya dengan mata yang sembab. Tanpa berbicara apapun, Sachi naik ke atas motor. Tak ada satu kata pun keluar sepanjang perjalanan.

***

TPU "Kamboja Putih"

"Maaf jika cara kami salah, Me. Tapi kami yakin kamu sudah berbahagia dio sana. Doa kami selalu menemanimu. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti. Di masa dan tempat yang berbeeda."

Sachi mengelus nisan bertuliskan nama Megumi Yhasi. Dan sekuntum kamboja jatuh tepat di pangkuan Sachi.
"Terimakasih, Me."

-Tamat-

DDH, 19062014

AKU, MANTRA, DAN WAKTU



Teriak camar senja itu mengingatkan aku pada Riki. Dia adalah pacarku yang gemar sekali melukis suasana pantai saat senja. Beberapa lukisannya bahkan sudah banyak yang terjual. Dan aku selalu jadi orang nomor satu yang merasakan hasil dari jerih payahnya.

Waktu itu, tanggal 06 Agustus 2013.

“Na, hari ini lukisanku ada yang beli lagi. Kamu mau minta dibeliin apa?” Riki menggodaku dengan memamerkan uang di tangannya.

“Aku mau boneka beruang yang tingginya sama seperti aku. Segini ...” jawabku sambil mengangkat tanganku ke atas kepala. Riki tertawa dan mencoba menarik hidungku, tapi kalah gesit denganku yang telah beralari ke pelukannya. Dia mengusap rambutku. Aku bahagia mempunyai kekasih seperti Riki yang baik, romantis dan pengertian.
Jam lima kami pergi jalan-jalan ke Mall di daerah Daan Mogot. Aku langsung menarik tangan Riki, saat aku lihat ada toko boneka yang terlihat lengkap dan ramai pengunjung . Riki hanya diam saat tangannya aku tarik. Lama aku memilih, rasanya tak ada yang sreg di hati. Aku berniat mencari lagi di toko lain. Saat kaki baru melangkah hendak berbalik, mataku sekilas melihat ke sudut toko di antara tumpukan permainan puzzle. Sebuah boneka beruang yang sangat cantik. Seingatku ... tadi nggak ada boneka seperti itu. Padahal setiap rak dan penjuru toko tersebut sudah aku kelilingi.

“Kenapa, Na? Kok diam? Jadi nyari boneka lagi gak?” tegur Riki padaku yang bengong melihat sudut toko itu. Riki mengedarkan pandangannya, mencoba mencari apa yang menjadi pusat perhatianku.

“Oh, ini toh yang buat kamu tidak bisa berkata apa-apa. Terpesona?” ledek Riki sambil mengambil boneka yang aku pandangi itu. Aku hanya mengangguk dan menurut saja waktu Riki menarik aku ke kasir. Boneka beruang berwarna coklat dengan pita di lehernya. Lucu dan sangat menggemaskan. Setelah transaksi selesai, kami teruskan jalan-jalan kami di mall tersebut. Riki rupanya faham, jika aku sedang menehan lapar juga haus.

“Mau makan apa, Na? Pasti kamu lapar kan?” senggolnya padaku. Aku sedikit nyengir pamer gigi. Telunjukku reflek mengarah ke tempat makan tradisional. Aku semenjak tinggal di kota bernama Jakarta ini, memang masih mencintai masakan kampung.tak heran bila teman-teman kerjaku sering meledek aku jadul atau kampungan. Tetapi memang lidahku tidak bisa makan makanan seperti pizza, spagheti, atau burger. Dan Riki faham itu.
Sambil menunggu makanan datang, aku membuka tas yang berisi boneka yang dibelikan Riki. Aku pandangi boneka itu sambil sesekali aku mengelus bulu lembutnya. Saat aku mengelus bagian belakangnya, tanganku merasa menyentuh sesuatu yang berbeda. Seperti sebuah label. Pastilah setiap produk ada labelnya. Tapi tetap saja aku penasaran ingin melihat, boneka cantik ini buatan mana. Sementara Riki sibuk dengan ponselnya.

“Simente lazaxhie lumiaso”
Hanya tulisan itu yang aku lihat di label boneka itu. Seperti bahasa Itali, tetapi nggak bermakna.

“Rik, kamu tau arti tulisan ini?”
Riki melirik ke arah label yang aku tunjukkan padanya.

“Nggak, tuh. Kenapa emang kok tiba-tiba menanyakan arti tulisan label itu. Nggak penting juga kali, Na?” kata Riki kemudian. Entah kenapa rasa penasaranku semakin kuat. Saat makanan datang, aku berniat untuk menanyakan itu pada pelayan itu. Mungkin saja dia mengerti, seorang pelayan makanan di mall sebesar ini pastinya orang yang berpendidikan tinggi.

“Maaf, Ka. Kaka tau nggak apa arti tulisan ini?” kataku padanya. Dia tersenyum dan mengambil boneka beruang yang ada di tanganku. Kaki Riki tiba saja menyenggol kakiku.

“Iiih, apa-apaan sih kamu, Na? Menggangu orang saja,” kata Riki agak berbisik.
“Maaf, kalau boleh saya memberi saran, lebih baik boneka ini di tukar saja dengan boneka yang lain. Boneka ini tidak baik jika harus ikut ke rumah Adik. Takutnya ada yang membaca ini.”

Aku semakin penasaran saat pelayan itu memberi keterangan seperti itu.

“Emangnya kenapa, Ka. Kok kaka bilang seperti itu?” tanyaku padanya. Pelayan itu tersenyum dan memberitahukan padaku jika aku jangan membaca tulisan itu. Katanya, kalimat dalam label itu adalah mantra. Siapapun yang mendengar mantra itu dia akan hilang dan masuk ke dalam boneka tersebut. Boneka itu bukan benda mati yang biasa dipeluk dan diajak bermain sepertipada umumnya. Tetapi jika aku memang sangat menyukai boneka itu, maka saran dia suruh memotong label yang tertera di situ. Tetapi jika aku memotong label itu, jiwa-jiwa yang terkurung di dalamnya tak akan pernah kembali.

Riki yang mendengar itu, hanya tersenyum sambil menyantap makanan di depannya. Sempat rasa tidak percaya itu melintas di kepalaku, tetapi apa iya ada mantra seperti di jaman serba maju seperti saat ini. Jika virus komputer aku mungkin percaya karena nyata. Tapi ini mantra penghisap jiwa? Di luar nalarku. Setelah makanan habis, kami langsung menuju parkiran dan pulang. Sepanjang perjalanan aku dan Riki berdebat masalah mantra yang ada di bonekaku. Riki nggak percaya. Dan menantang aku untuk membacakannya di depanku nanti setibanya di rumah. Antara percaya dan tidak, rasa penasaranku semakin menjadi.

Setibanya di rumah, Riki menantang aku untuk mencoba mantra itu. Tak ada terlintas di benakku untuk mencoba mantra itu pada Si Manis, kucing kesayanganku. Aku keluarkan boneka itu dari tasnya. Riki terus saja tertawa meledek aku. Dia malah berkata dan bicara tentang wasiat dan warisan. Semakin jengkel dengan ledekannya, akhirnya aku baca juga kalimat dalam label itu.

“Simente lazaxhie lumiaso”
Aku baca dengan sedikit ragu kalimat tersebut. Tidak terjadi apa-apa. Riki masih ada di depanku. Dia terkekeh melihat aku yang terlihat ketakutan.

“Tuh, kan?! Apa kataku. Mana ada sih label boneka bermantra gaib. Lihat? Kamu melihat aku nggak, Na? Atau kamu nggak lihat aku? Oh, tidak! Aku hilang dari pandangan ... hahaha,” Riki terus meledek aku. Aku semakin jengkel. Tapi aku senang juga, coba kalau mantra itu beneran bisa menghisap jiwa, aku akan kehilangan Riki pacar terbaikku. Aku tersenyum sendiri dan semakin Riki meledek aku. Kami pun tertawa dan bercanda. Dan tanpa sengaja saat Riki bermain dengan Si Manis, kucingku, aku iseng membaca mantra tersebut dengan mengarahkan ujung sapu injuk punya Mama ke arah Riki. Aku membacanya memakai logat seperti Harry Potter. Dan tiba saja ada kabut putih tipis menyelimuti Riki dan kucingku. Semenit kemudian, mereka hilang. Tak berbekas. Aku mencari mereka sekeliling rumah, tapi nihil. Riki dan kucingku benar-benar telah terhisap oleh boneka itu. Aku menangis sambil teriak-teriak memanggil Riki, tetapi tak ada jawaban apapun. Aku bingung. Dan hingga sekarang, aku tidak pernah menemukan Riki beserta kucingku. Meski berbagai cara telah aku perbuat, dengan berkonsultasi dengan sejumlah paranormal juga dukun tradisional.


Boneka itu aku simpan di lemari pakaianku, sejak  kejadian setahun yang lalu. Aku takut bila Rasya adikku membaca label itu atau siapapun yang memegangnya. Dan aku percaya Riki pasti akan kembali lagi, meski aku sendiri tidak tahu dengan cara apa aku mengeluarkannya dari dalam boneka tersebut.
Aku masih berjalan menyusuri pantai dan masih menikmati suara camar yang berteriak-teriak memanggil anak-anaknya untuk pulang. Aku mengambil patahan ranting kering yang tergeletak di depanku, aku mengukir nama Riki disana. Pada goresan terakhir, rantingku patah menabrak sesuatu di dalam pasir. Aku mengoreknya dengan kakiku. Sebuah kalung berliontin batu berwarna biru tua. Sangat indah. Aku mengambilnya dan membawa pulang. Setibanya di rumah, aku kalungkan kalung itu di leher boneka beruangku. Aku persembahkan untuk Riki yang ada di dalam sana. Sungguh ajaib!
Boneka itu hidup dan bisa bergerak. Dia berputar sebelum akhirnya terdengar suara ledakan kecil dan asap mengepul menyelimutinya. Berbagai cahaya berwarna-warnipun memenuhi ruangan kamarku. Lama sekali cahaya-cahaya itu berputar di antara asap putih yang lama kelamaan menghilang. Dan ... sejumlah orang berdiri di depanku, termasuk Riki dan kucingku Si Manis. Tangisku pecah seketika melihat mereka. Aku berlari memeluk Riki yang masih seperti orang kebingungan.

“Rik, kamu tidak apa-apa kan? Maafkan aku yang telah menyengsarakan kamu di sana.” Aku masih tersedu dan Riki masih saja terdiam. Dia tidak membalas pelukanku, tatapan matanya kosong. Begitu juga dengan lima orang yang ada bersamanya. Pun tak terkecuali Si Manis.

“Hai, Rik! Gimana keadaanmu saat ini sayang?” tanyaku siangku itu pada Riki yang sedang duduk di taman sendiri. Sudah enam bulan Riki di Rumah Sakit Jiwa. Riki hanya tersenyum melihat aku datang. Sampai saat ini Riki belum bisa dimintai keterangan apapun tentang apa yang terjadi di sana. Di dalam boneka yang mengurung dia hampir satu tahun. Dan aku percaya, Riki akan sembuh dan kembali seperti dulu lagi.
“Aku baik, Na”

--TAMAT--

JANGAN SAKITI SAHABATKU!


Matahari telah naik sepanjang galah, dan burung-burung telah ramai berkicau menyambut pagi hari ini. Begitupula dengan Tia yang panik mempersiapkan diri berangkat sekolah. Terlambat bangun adalah kebiasaan Tia selepas hari libur.

“Tia, ayo berangkat!” teriakan temannya, Tasya yang sudah menunggunya sejak tadi.
Tia lantas bergegas menyambar tas dan buku-buku besarnya. Segera dia keluarkan sepeda dan menyimpan peralatannya di dalam keranjang sepeda. Mereka berdua mulai mengayuh sambil sesekali terdengar canda tawa keduanya. 

Pada sebuah persimpangan jalan mereka terhenti karena terhalang oleh kerumunan orang. Sepertinya baru saja terjadi kecelakaan. Merasa sudah terlambat, mereka tidak turut melihat apa yang sedang terjadi. Dilanjutkannya perjalanan menuju sekolah.
Jam pelajaran di mulai. Tia terlihat mengantuk dan berulangkali dia menguap.

“Anak-anak, sekolah kita tengah berduka. Salah satu dari teman kalian ada yang meninggal. Ara anak kelas IA. Jadi hari ini sepulang sekolah kita bersama-sama takziyah ke rumah Ara,” pengumuman dari Bu Indah membuat kantuk Tia mendadak hilang. Tia adalah seorang yang terkenal sangat penakut.

Siang sangat terik, panasnya membakar kulit. Tia bersama teman-teman juga para guru pergi takziyah ke rumah Ara. Ara adalah sahabat baru Tia dan Tasya. Tetapi Ara lebih terlihat dekat dan akrab dengan Tasya. Mungkin karena sifat Tasya yang ramah juga supel. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Ara meninggal karena di bunuh. Dari keterangan ibunya Ara, Ara dibunuh dengan sadis. Pembunuh memukulnya dengan kayu hingga beberapa bagian tubuh Ara remuk dan mengalami patah tulang, menurut hasil otopsi dari rumah sakit. Dan pembunuh itu meninggalkan kayu yang dipakainya untuk membunuh Ara bersama setangkai mawar dari kertas.

Dalam beberapa hari, peristiwa yang menimpa Ara tetap menjadi misteri dan menjadi topik di kantin sekolah. Beberapa dugaan menjadi mencuat, tetapi tetap tidak ada titik temunya.

“Hai Tia, Tasya ... boleh aku bergabung duduk disini?” kata Rima sambil menaruh porsi makanannya di meja makan kantin. Tia dan Tasya tersenyum. “Silakan, gak apa-apa kok. Ini kan tempat umum,” sahut Tia kemudian. Rima tersenyum dan mengajak keduanya berbincang, bercanda bersama.
Sejak hari itu, Rima menjadi dekat dengan Tia dan Tasya. Mereka selalu belajar bersama dan main bersama. Tasya adalah siswa teladan yang prestasinya tidak diragukan lagi. Berbagai  lomba dia menangkan, sedang Tia siswa berprestasi dalam bidang olahraga. Mereka adalah siswa kebanggaan sekolah. Rima sangat senang bersahabat bersama mereka, selain mereka cerdas-cerdas keduanya juga ramah.

Hingga pertengkaran itu terjadi, semua menjadi berbeda. Rima berselisih paham dengan Tasya masalah Romi. Romi adalah teman dekat Tasya yang akhir-akhir ini dekat dengan Rima. Dan sepertinya Rima menyukai Romi. Itu yang membuat Tasya gusar. Tia pun jadi sering jadi tumpahan amarah Tasya. Dan Tia memahami itu, dia dengan sabar menemani dan memberi semangat pada Tasya.

Malam merayap hening, tetapi tidak dengan suasana yang terjadi di taman kota. Sepulang dari tempat Tia, Tasya menemukan Romi sedang duduk bersama Rima di taman. Kecemburuan Tasya kian memuncak. Pertengkaranpun tidak dapat dielakkan. Tetapi bisa diredam kemudian oleh Romi yang mengajak Rima pulang dan meninggalkan Tasya menangis sendiri di bangku taman malam itu.
Keesokan harinya sekolah Tasya gempar dengan berita kematian Rima. Lagi-lagi tentang pembunuhan. Belum ada sebulan, sekolah dihebohkan dengan kedua siswanya yang meninggal karena dibunuh.dan pembunuh itu meninggalkan jejak yang sama dengan jejak yang ditinggalkan sewaktu membunuh Ara. Kayu balok dan setangkai mawar kertas. Sedang kasus bergulir, belum ditemukan siapa pelaku dari setiap kejadian itu. Tia dan Tasya yang baru saja sampai di kelas mereka sontak terkejut. Mereka tidak percaya sahabat baru mereka yang jadi sasaran pembunuhan lagi. Romi menuduh Tasyalah dalang dari peristiwa yang menimpa Rima. Motifnya adalah cemburu dan dendam dengan kejadian semalam. Tasya berontak dan menangis, dia tidak menyangka orang yang amat disayanginya menuduh dia sekeji itu. Tia terus mendampingi Tasya dan menghiburnya. Dia percaya Tasya tidak akan tega berbuat itu.

“Kamu masih menuduh aku pelaku pembunuhan Rima, Rom?” tanya Tasya siang itu di kantin sekolah. Romi diam dan tidak memberi respon apa-apa. Matanya tetap tertuju pada layar telepon ditangannya. Tak bergeming sedikitpun. Rima merasa kecewa dengan sikap Romi yang menuduhnya seperti itu.

“Kalaupun kamu marah padaku tak apa, Rom. Mungkin aku memang salah, tetapi aku bukanlah pembunuh,” terakhir kalinya Tasya memberi penjelasan pada Romi yang masih saja diam tak berkata sepatah katapun. Tasya pergi meninggalkan Romi sambil menahan tangis. 

“Rom, kamu masih beranggapan Tasya yang membunuh Rima?” kata Tia yang duduk menghampiri Romi selang beberapa menit kepergian Tasya.

“Sebenarnya aku juga nggak menuduh langsung seperti itu. Aku hanya curiga karena semalam mereka habis bertengkar hebat. Dan itu aku saksinya. Yah, hati orang mana kita tau sih,” jawab Romi sinis. Tia tidak bisa berkata apa-apa mendengar jawaban Romi yang yakin sekali jika Tasya adalah tersangka utama pembunuhan Rima.

Sore menjelang malam, Tasya yang masih bersedih dan putus asa karena tuduhan itu masih menangis. Matanya sembab dan mukanya kusut. Hingga satu nada dering ponselnya berbunyi, dia tetap tidak peduli. Ponsel berdering berulang kali, memaksa Tasya menjawab telepon itu.

“Sya, maafkan aku ya. Aku sudah menuduhmu tanpa bukti dan membuat kamu menangis. Aku terlalu dikuasai amarah sejak malam itu,” suara parau di ujung sana membuat tangis Tasya menjadi.

“Aku ingin minta maaf secara langsung, temui aku di taman kota seperti biasa. Aku menunggumu, Sya!” Romi berharap Tasya mau datang dan memaafkannya.

Jalanan lengang, hanya satu dua saja kendaraan yang berlalu lalang. Sesampainya di taman kota, di tempat biasa Tasya bertemu Romi, Tasya tidak menemukan Romi. Tetapi tiba saja matanya tertuju pada semak-semak disebelahnya. Kakinya menginjak sesuatu, dan itu adalah kaki. Tasya menjerit histeris, melihat sosok yang tergeletak dalam semak yang nampak gelap. Tanpa pikir panjang, dia berlari meninggalkan tempat itu. 

“Ya, tolong bukakan pintu!” Tasya berteriak panik di depan pintu kost-an Tia. Tia membuksakan pintu dan Tasya langsung menghambur ke dalam. Dia menggigil, mukanya terlihat pucat.

“Kamu kenapa, Sya?” tanya Tia keheranan melihat sahabatnya ketakutan seperti itu. Tasya menceritakan semua yang dilihatnya di taman. Tia terkejut dan tidak mempercayai itu. Tia berusaha menenangkan sahabatnya. Hingga akhirnya dia tertidur. Alangkah terkejutnya Tia saat dia melihat, setangkai bunga mawar kertas berjatuhan dari saku jaket Tasya. Pikiran Tia menjadi kacau, bunga mawar kertas itu adalah jejak yang selalu ditinggalkan oleh pembunuh sahabat mereka. Mengapa Tasya memiliki sebanyak itu? 

Suara sirine mobil polisi terdengar mendekat. Tasya terbangun. Matanya langsung tertuju pada Tia yang sedang memegang mawar-mawar kertas. Matanya terlihat gugup. Belum sempat mereka berbincang, terdengar pintu kamar di ketuk. Tia bergegas membuka pintu. Dua orang berseragam lengkap telah berdiri di depan pintu. 

“Kalian berdua Kami tangkap, dengan dugaan pembunuhan atas orang yang berbeda.”
Tia dan Tasya pasrah menyerah, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Di kantor polisi, Tia mengaku telah membunuh Rima juga Romi karena telah membuat sahabatnya Tasya bersedih. Sedang Tasya mengakui telah membunuh Ara, karena cemburu pada Tia yang selalu akrab dan melupakan dia pada saat dekat dengan Ara. Dan tentang mawar kertas itu, keduanya sama-sama memilikinya dengan motif yang sama. Sama-sama untuk mengalihkan perhatian.

TAMAT

NOVEL BERDARAH


Usai bel sekolah berdentang, kelas menjadi sepi. Hanya beberapa gadis berseragam putih abu-abu yang masih bercanda di sudut-sudut sekolah. Di taman, seorang gadis berambut lurus dengan mata yang bulat, bibirnya merah ranum dengan kulit sawo matang sedang duduk sendiri. Tak ada kata lain untuk menggambarkan kecantikan dan keanggunannya selain satu kata "sempurna". Da tengah asyik membaca majalh yang ada di tangannya. Sesekali dia menyibak mahkota indahnya karena tertiup angin siang itu.

"Sya, kamu tidak pulang? Sedang nunggu seseorangkah?"

Rasya, nama gadis itu. Dia menoleh ke arah pemuda yang baru saja menyapanya. Raditya, pemuda wajah oriental dengan rambut style korea. Matanya agak sipit dan bibirnya tipis, sangat mungil. Mirip dengan aktor di tokoh-tokoh kartun. Dia tersenyum melihat Rasya memandanginya tak berkedip.

"Hei!" Raditya mengibas-ibaskan jemari tangannya di depan muka Rasya.

"Eh, i-iya Dit. Ada apa? kenapa?" Rasya tergagap karena malu.

Raditya duduk di sebelah Rasya. Sesekali melirik majalah di tangan gadis itu. Perbincangan antara merekapun berakhir dengan canda tawa. Hingga waktu menjelang sore, meraka beranjak pulang. Di perjalanan pulang, Rasya mendadak histeris. Raditya kebingungan dengan kejadian itu. Rasya terus berteriak-teriak seperti ketakutan.

"Tidak! Bukan aku ... pergi!" Rasya terus berteriak seperti itu. Raditya berusaha menyadarkannya, tetapi Rasya malah mendorongnya kuat hingga Raditya jatuh tersungkur. Begitu kuatnya Rasya mendorong tubuh Raditya, hingga bibirnya terluka dan berdarah terbentur bebatuan di jalan itu. 

"Sya! Sadar, Sya. Ini aku Radit, teman kamu."

 "Aaah ...," balok kayu sebesar kaki Radit hampir saja mendarat di kepalanya. Untung saja dia berhasil berkelit, menghindar. Dengan sigap Radit langsung merampas kayu yang ada di tangan Rasya, dan membuangnya. Dia melepas ikat pinggangnya, dan mengikat Rasya. Rasya berontak, memaki-maki Radit. Matanya memerah dan bibirnya mendesis, seperti ular. Radit berteriak meminta tolong, kepada orang-orang yang melintas jalan itu. Tapi nihil, semua seakan tidak peduli.
Radit mulai kebingungan, dia hanya bisa melihat Raysa meronta dengan bringasnya.  Sedikit tak percaya dengan apa yang terjadi pada Raysa. Ya ... bagaimana mungkin, gadis yang begitu anggun, cantik, lemah lembut itu menjadi sesosok makhluk yang sangat mengerikan. 

"Radit, tolong aku, lepaskan aku, ini sangat menyiksaku Radit," rengek Raysa, berharap  Radit akan melepaskan ikatannya. 

"Tidak Sya, jika aku melepaskan mu, kamu akan menyakiti dirimu sendiri," ucap Radit parau. Sebenarnya ia juga tidak tega melihat gadis yang dicintainya tersiksa seperti itu. 

"Ayolah Radit, bantu aku, akan aku jelaskan semuanya padamu. Apa kamu tega mengikatku seperti ini?" ucap Rasya memelas. Sepertinya ia sudah sadar dengan apa yang dilakukannya barusan. Radit pun memberanikan diri melepaskan ikat pinggangnya. Mereka duduk berdua disebuah bangku taman, Rasya menjelaskan semua kepada Radit. 

"Maafin aku ya, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan emosiku, aku sangat takut Dit, bahkan untuk pulang sekalipun," dengus Rasya dengan nada yang sedikit aneh. 

"Kenapa?" tanya Radit penasaran. 

"Orang tuaku selalu bersikap kasar padaku, sebab itulah aku seperti ini," jawab Rasya. Radit hanya mengangguk pelan, ia percaya dengan apa yang dikatakan Rasya. Radit langsung merangkul tubuh Raysa dengan erat. Tanpa ia sadari, ternyata Raysa menyimpan sejuta rahasia yang tak ada satu orang pun yang tau. Termasuk orang tuanya sendiri. Dia seorang yang tertutup dan hampir jarang bergaul dengan siapapun, termasuk adiknya sendiri. Hari-hari dia di sekolah dan di kamar. Bahkan ibunya sendiri menyebut dia anak yang aneh. Pada saat-saat tertentu Rasya sering histeris. Karena perilakunya itu, keluarga dia sering mengikat atau mengurungnya di kamar mandi. Rasya beruntung memiliki teman yang mencintai dia meski dengan keanehan yang dia punya. Yah, Raditya. Pemuda itu mencintai Rasya semenjak mereka bertemu di kelas yang sama tahun ini.

“Tidak! Aku mohon, jangan ganggu aku lagi. Aku sudah lelah dengan semua ini. Apa sebenarnya mau kalian! Buku diary biru inikah yang kalian mau?” Rasya memelas tak berdaya. Dia bersimpuh di hadapan sebuah cermin sambil memeluk buku diary berwarna biru. Kemudian dia berdiri dan berlari ke atas ranjang yang tidak jauh dari tempatnya terduduk lemas.

“Pergi!!! ... sampai matipun aku tidak akan menyerahkannya pada kalian. Ini adalah hasil dari kerja kerasku selama ini, dan aku akan kirim secepatnya kepada penerbit.”

Klik!
Pintu kamar Rasya terbuka. Seorang perempuan paruh baya memasuki kamar. Dia menatap jengkel kepada Rasya.

“Kenapa lagi kau ini, Sya! Setiap hari kerjaan kamu hanya berteriak tidak jelas seperti itu. Sudah hentikan keinginanmu untuk menjadi penulis novel horror, itu yang membuatmu menjadi seperti ini. Termakan imajinasi sendiri. Besok Ibu antar kau menemui psikiater,” perempuan yang ternyata ibunya Rasya itu berlalu dengan membawa laptop dari meja belajar Rasya. Rasya menangis tersedu. Dia menjambaki rambutnya sendiri.

“Tak akan ada yang bisa melarang aku untuk terus menulis. Tidak juga dengan kalian para pencuri naskah!” Rasya teriak sambil memutar telunjuknya ke arah dinding-dinding di kamarnya itu.

Radit nampak kebingungan siang ini. Dia berjalan tergesa menyusuri koridor sekolahnya. Sesekali dia bertanya pada siswi yang sedang duduk-duduk di depan kelas. Rasya hari ini tidak sekolah, itu yang membuat Radit kebingungan. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, karena sekitar jam 3 pagi tadi Radit menerima pesan singkat dari Rasya. Dia berpamitan dan memohon maaf atas segala ulahnya selama ini. Setelah dipastikan Rasya tidak ada, Radit langsung berlari ke tempat parkir sekolah. Disambarnya helm yang menggantung di jok motornya, dan meluncur menuju rumah Rasya. Di perjalanan, perasaan Radit tak menentu. Berbagai prasangka dan bayangan yang buruk tentang Rasya terus melintasi benaknya.

“Sya, tenang dulu! Jangan gegabah dengan senjata itu.”

Prakkk!!!
Terdengar suara kaca pecah karena dilempar sesuatu. Suara bising dan teriakan-teriakanpun semakin keras dan terdengar hingga ke luar rumah. Radit yang baru saja tiba, semakin panik mendengar kegaduhan di dalam rumah. Dia langsung menghambur memasuki halaman dan mengetuk pintu. Tak ada jawaban, dan pintu itu terkunci rapat. Gordyn semua jendelapun tertutup. Suara gaduh tadi menghilang—sunyi. Laun terdengar musik klasik dari arah sebuah kamar. Radit berjalan mengitari rumah itu berharap menemukan celah untuknya masuk ke dalam. Kini suara tangisan yang terdengar dengan alunan musik mozart. Radit semakin bingung dan panik. Dia hampiri jendela kamar Rasya dan berteriak memanggil gadis itu. Tak ada jawaban. Tanpa sengaja saat mau berjalan ke arah belakang rumah, Radit tersandung sebuah linggis. Dia langsung mengambilnya, dan berlari ke arah pintu depan. Radit mencoba mendobrak pintu itu dengan linggis di tangannya.

Brakkk!!!
Pintu akhirnya berhasil dibuka. Alangkah terkejutnya Radit  melihat Ibu Indah, ibunya Rasya yang tergeletak bersimbah darah di atas sofa dengan mata yang melotot dan mulut menganga. Radit berjalan menuju kamar Rasya dengan hati-hati. Di ruang keluarga, Dinapun tewas dengan kaki terikat sebelah di tiang penyangga rumah itu. Dadanya berlubang dengan darah yang masih meleleh. Perasaan Radit semakin tidak menentu. Takut, penasaran dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pintu kamar Rasya terbuka sedikit. Radit mencoba melihat ke dalam kamar, tetapi gelap. Dia tidak bisa dengan jelas melihat ke dalam. Di beranikan diri untuk membukanya lebih lebar, perlahan dia masuk.

“Sya, kamu dimana? Kamu baik-baik saja kan?”
Sambil menelan ludah karena tegang, Radit mencari saklar lampu kamar Rasya.

Klik!
Lampu neon berdaya 5watt itu menyala. Alangkah terkejutnya Radit, mendapati tubuh Rasya yang tergeletak di sudut kamar itu dengan pistol di tangannya. Kepalanya berdarah dengan tangan satunya memegang secarik kertas yang bersimbah darah juga. Radit meraih kertas yang bertuliskan huruf  “L”.

“L, apa maksudnya. Apa yang hendak Rasya sampaikan dengan huruf ini,” Radit mengernyitkan dahinya. Tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki mendekati kamar. Secepat kilat dia bersembunyi di balik lemari samping mayat Rasya.

“Aku harus bawa semua mayat ini, dan membuangnya di sungai atau jurang. Supaya polisi tak menemukan jejak kematian mereka. Dan ini adalah bab terakhir dari cerita yang di tulis Rasya. Ternyata begini rasanya.” 

Perempuan itu langsung memasuk  mayat Rasya ke dalam polybag berwarna biru. Radit terus memperhatikan apa yang dikerjakan perempuan itu. Dia tidak berani berbuat apa-apa. Dia takut menjaddi korban berikutnya. Mayat Rasya diseret keluar ruangan kamar dan disatukan dengan mayat Bu Indah juga Dina. Kemudian dia pergi ke belakang meraih kunci yang menggantung di pintu dapur. Satu persatu polybag berisi mayat itu ditarik dan dimasukkan ke dalam mobil.
Suara sirine mobil polisi terdengar mendekat. Perempuan itu panik, dan hendak melarikan diri. Secepat kilat Radit menarik tangan perempuan itu dan menamparnya hingga dia terjatuh.

“Kenapa?! Kenapa kau lakukan ini pada mereka, Lisa. Apa salah mereka padamu, hah!” teriak Radit meluapkan emosi yang tertahan semenjak tadi.
Lisa hanya tersenyum.

“Jadi kamu yang memanggil polisi itu? Aku hanya seorang fans, Radit. Dan aku hanya ingin masuk dalam cerita novel yang dibuat Rasya. Berulang kali aku mencari cara mengambil buku diary miliknya, tapi tidak berhasil. Hingga akhirnya aku memakai jasa dukun untuk membuat Rasya gila dan membuat keluarganya berniat memasukkan dia ke Rumah Sakit Jiwa. Dan itupun sesuai dengan cerita dalam novel Rasya sebelumnya. Hingga tadi malam aku berhasil merampas buku diary yang merupakan kelanjutan ceritanya. Dan sekarang sudah tamat. Tamat juga hidup Rasya,” jelas Lisa kemudian diiringi tawa yang membuat merinding bulu kuduk Radit. Akhirnya polisi berhasil menemukan mereka dan membawa Lisa juga Radit ke kantor polisi.

--Tamat--